Desain Rak Buku

bagaimana perpustakaan pribadi di rumah memengaruhi persepsi diri

Desain Rak Buku
I

Pernahkah kita menyadari sebuah fenomena unik yang mendadak muncul saat era meeting virtual meledak beberapa tahun lalu? Tiba-tiba, hampir semua orang berlomba-lomba menempatkan rak buku sebagai latar belakang video mereka. Ada yang menyusunnya dengan rapi, ada yang membiarkannya sedikit berantakan agar terlihat "natural", bahkan ada yang sengaja menaruh judul-judul berat persis di sebelah telinga mereka. Kita mungkin tersenyum geli melihatnya. Kesannya, kita sedang berusaha pamer intelektualitas kepada rekan kerja atau klien di seberang layar. Namun, mari kita pikirkan lagi secara lebih mendalam. Bagaimana jika sebenarnya kita tidak sedang memamerkan siapa diri kita kepada orang lain? Bagaimana jika desain rak buku dan perpustakaan kecil di rumah itu sebenarnya adalah alat untuk meretas otak kita sendiri?

II

Untuk memahami hal ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur sebentar ke masa lalu. Secara historis, buku adalah benda yang sangat eksklusif. Di perpustakaan biara abad pertengahan, buku-buku bahkan dirantai ke rak agar tidak dicuri (chained libraries). Memiliki buku berarti memiliki kekayaan dan akses ke sumber daya yang langka. Seiring berjalannya waktu, mesin cetak Gutenberg mengubah segalanya. Buku menjadi benda konsumsi massal yang bisa masuk ke ruang tamu kita. Kini, kita mendesain rak buku sedemikian rupa. Ada yang menyusunnya berdasarkan warna agar estetik. Ada yang berdasarkan genre. Ada yang menumpuknya secara horizontal dan vertikal. Dari kacamata psikologi lingkungan (environmental psychology), cara kita menata ruang fisik adalah bentuk ekstensi dari pikiran kita. Ruangan yang kita tinggali bukanlah sekadar wadah kosong, melainkan cermin yang memantulkan kondisi batin. Tapi, tunggu dulu. Proses pemantulan ini ternyata tidak berjalan satu arah. Bukan cuma pikiran yang mengubah ruangan, ruangan juga secara aktif mengubah pikiran.

III

Di sinilah misterinya mulai menarik. Coba jujur, berapa banyak buku di rak teman-teman yang belum pernah dibaca sampai tuntas? Orang Jepang punya istilah indah untuk ini: tsundoku, kebiasaan membeli bahan bacaan dan membiarkannya menumpuk tanpa dibaca. Seringkali kita merasa bersalah karena hal ini. Kita merasa rak buku kita penuh dengan kebohongan. Namun, seorang filsuf dan penulis legendaris, Umberto Eco, justru punya pandangan yang radikal. Ia memiliki perpustakaan pribadi berisi lebih dari 30.000 buku. Eco menyebut bahwa perpustakaan bukanlah alat ukur dari apa yang sudah kita ketahui. Ia menyebutnya sebagai antilibrary (anti-perpustakaan). Menurutnya, buku-buku yang belum dibaca jauh lebih penting daripada yang sudah dibaca. Lalu, apa hubungannya desain rak buku, tumpukan buku yang belum dibaca, dan cara kerja otak kita? Mengapa melihat deretan buku yang tak tersentuh itu diam-diam sedang membentuk ulang persepsi kita tentang siapa diri kita yang sebenarnya?

IV

Mari kita bedah hal ini dari kacamata sains neurokognitif. Ada sebuah konsep dalam psikologi kognitif yang disebut sebagai Extended Mind Thesis (Tesis Pikiran yang Diperluas). Konsep ini berargumen bahwa kognisi kita tidak hanya terjadi di dalam tengkorak kepala, tetapi juga melibatkan lingkungan fisik di sekitar kita. Rak buku adalah external hard drive dari identitas kita. Saat kita mendesain rak buku agar selalu terlihat dari meja kerja atau kasur, kita sedang melakukan visual priming. Setiap kali mata kita menangkap punggung buku tentang sejarah dunia, filsafat, atau biografi tokoh hebat—meskipun kita belum membacanya—otak kita melepaskan sinyal mikro. Sinyal ini memperkuat self-efficacy (keyakinan akan kemampuan diri). Rak buku itu berbisik kepada alam bawah sadar kita: "Saya adalah orang yang memiliki rasa ingin tahu. Saya adalah orang yang menghargai pengetahuan."

Ini bukan soal pamer. Ini adalah sains tentang pembentukan kebiasaan berbasis identitas (identity-based habits). Otak kita sangat plastis (neuroplasticity). Lingkungan fisik yang penuh dengan simbol-simbol eksplorasi intelektual akan secara perlahan mengubah persepsi diri kita. Kita akan mulai bertindak selaras dengan lingkungan yang kita ciptakan. Rak buku yang didesain terbuka dan mudah dijangkau bertindak sebagai jangkar psikologis. Ia mengingatkan kita akan ketidaktahuan kita yang luas, mematikan arogansi, sekaligus memicu rasa penasaran. Di situlah antilibrary milik Umberto Eco bekerja: tumpukan buku itu adalah monumen pengingat bahwa selalu ada hal baru untuk dipelajari besok pagi.

V

Jadi, teman-teman, mulai sekarang kita tidak perlu lagi merasa insecure atau bersalah melihat rak buku di kamar atau ruang tamu kita. Tidak perlu memusingkan jika susunannya tidak seindah katalog furnitur IKEA. Tidak masalah jika sebagian besar halamannya belum pernah kita sentuh. Perpustakaan pribadi kita bukanlah museum untuk memamerkan masa lalu, melainkan peta jalan untuk masa depan kita. Rak buku itu adalah teman yang penuh empati. Ia tidak pernah menghakimi kemalasan kita, ia hanya dengan sabar menunggu, dan secara diam-diam terus meyakinkan otak kita bahwa kita selalu punya ruang untuk bertumbuh. Teruslah membeli buku, teruslah menata rak buku itu sesuka hati kita. Karena pada akhirnya, saat kita sedang menyusun buku-buku di rak, kita sebenarnya sedang menyusun kepingan-kepingan diri kita sendiri.